Update Kasus Umicron Di Indonesia

proboards51 – Tahukah Anda bahwa Indonesia kembali mengalami lonjakan kasus Umicron dalam 1 bulan ini. Meski belum secara resmi memasuki gelombang ketiga, namun Departemen Kesehatan tetap melakukan upaya pengawasan untuk melihat tanda-tanda peningkatan kasus. Varian Omicron yang kini kita jumpai bisa dikatakan memiliki gejala yang lebih ringan, namun bukan berarti varian ini bisa dibilang ringan sepenuhnya. Yuk simak penjelasannya bersama-sama.

kasus umicron

Kasus Omicron dikatakan sebagai varian milder

Salah satu Wolter et al. pada tahun 2022 menganalisis tingkat keparahan kasus varian Omicron COVID-19 di Afrika Selatan. Analisis dilakukan dengan menghubungkan data nasional Afrika Selatan, hasil tes laboratorium, hasil tes genomik dan data penerimaan rumah sakit lokal.

Penentuan tingkat keparahan pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dilakukan dengan uji S-Gene Target Failure (SGTF) menggunakan Thermo Fisher Scientific TaqPath PCR. Infeksi dikategorikan sebagai SGTF (Omicron Presence Marker) ketika seseorang terkonfirmasi positif TaqPath COVID-19 dengan target gen S tidak terdeteksi dan memiliki skor Cycle Threshold (CT) 30. Sebaliknya, jika seseorang positif menggunakan TaqPath COVID-19 dengan gen S target terdeteksi pada CT yang sama, infeksi dikategorikan sebagai non-SGTF. SGTF digunakan sebagai indikasi adanya omicron karena varian lain tidak menunjukkan karakteristik yang sama selama masa penelitian.

Tingkat penyakit yang parah didefinisikan

Nealon dan Bowling meninjau temuan ini. Afrika Selatan diketahui dilanda gelombang infeksi virus yang berulang. Tidak ada hubungan yang jelas antara peningkatan jumlah kasus dan pengurangan dampak infeksi SGTF pada akhir tahun 2021. Infeksi ulang dengan COVID-19 umumnya lebih ringan daripada infeksi awal dan pada Desember 2021 lebih dari 70% wilayah Selatan Penduduk Afrika telah memilikinya. Antibodi yang baik diperoleh melalui vaksinasi atau infeksi alami. Penentuan derajat keparahan dengan menggunakan kriteria di atas tidak menunjukkan hasil yang signifikan, yang mungkin disebabkan oleh sedikitnya kasus berat. Ini juga dikonfirmasi oleh penelitian yang melaporkan penurunan patogenesis pada model hewan serta kemampuan replikasi virus yang lebih rendah dalam sel paru-paru untuk varian omicron.

Pengurangan keparahan varian Omicron ini memang merupakan temuan yang sangat penting. Namun, penting untuk diingat bahwa bahkan mengurangi keparahan penyakit masih dapat memiliki dampak sosial seperti kesehatan yang buruk, produktivitas yang hilang, tingkat stres yang tinggi, dan tekanan pada fasilitas kesehatan karena kekurangan staf. Dinamika epidemi varian Omicron cenderung berdampak lebih kecil dibandingkan varian sebelumnya. Tingkat rawat inap 21% ini untuk gejala parah di Afrika Selatan dapat bervariasi di daerah dengan demografi dan tingkat kekebalan yang berbeda. Studi oleh Wolter et al. Ini tentu kabar baik, tetapi kita tidak boleh mengabaikan kehati-hatian kita dan segera berasumsi bahwa varian ini akan menunjukkan perilaku yang sama di wilayah lain.

Dikonformasi Kembali Sekarang Sudah Mulai Menurun

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat kasus aktif COVID-19 kembali menurun hingga menyentuh angka 399.583 setelah sehari sebelumnya (9/3) berada di posisi 417.219. Penurunan kasus aktif ini stabil sejak 28 Februari 2022, dari 569.736 hingga sekarang mulai mencapai angka 300.000. Selain itu, jumlah kasus terkonfirmasi harian turun menjadi 21.311 pada hari ini dari 26.336 pada hari sebelumnya. Rekor ini membuat tingkat hunian rumah sakit nasional menjadi 26% (10/3). Menurun dari angka sebelumnya yang tercatat sebesar 27% (9/3).

Bulan Febuari kemarin di catat ada penurunan yang cukup siginifikat. Hal ini memberikan optimisme terhadap upaya penanggulangan COVID-19 yang saat ini dilakukan oleh pemerintah. Namun, jumlah vaksinasi lengkap dan booster tahun ini perlu ditingkatkan untuk membentuk kekebalan kelompok,” kata dr Siti Nadia Tarmizi M. Epid., Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan.

Baca Juga : Terbaru ! Tes Swab dan PCR Tidak Lagi Menjadi Prioritas

Seiring dengan penurunan jumlah kasus aktif, diikuti jumlah kasus terkonfirmasi dan okupansi rumah sakit, testimoni positif dari upaya penanggulangan COVID-19 juga menunjukkan peningkatan jumlah pasien yang sembuh. Jumlah pasien yang sembuh hari ini meningkat dari hari sebelumnya menjadi 38.399 atau 31.705.

Tingkat vaksinasi juga telah kembali ke tingkat kontak lebih dari 2 juta dosis per hari. Hari ini, dosis 1 vaksin COVID-19 diberikan kepada 192.891,436 (92,62%). Vaksin dosis 2 juga diberikan kepada 150.069.223 (72,06%). Untuk vaksinasi, dosis 3 atau booster diberikan kepada 13.905.146 (6,68%). Tingkat vaksinasi hari ini meningkat 2.027.873 dosis dari hari sebelumnya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.